My Writings. My Inspired.
Kesedihan dan Lampu Merah
On » Minggu, 11 Oktober 2009 //
In »
cerita,
emosi,
inspirasi,
jalan,
mobil,
motivasi,
polisi,
sahabat,
sedih,
teman
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Indra
segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup
lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati
Indra berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter
menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Indra bimbang, haruskah ia
berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Indra menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu kan Mahadi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Indra agak lega. Ia
melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Die. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Indra.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Mahadi agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. “Die, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh
terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Indra harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta
sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong ndra. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”
Dengan ketus Indra menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Mahadi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
saat kemudian Mahadi mengetuk kaca jendela. Indra memandangi wajah Mahadi dengan
penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup
untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata mahadi kembali ke posnya.
indra mengambil surat tilang yang diselipkan Mahadi di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa
ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru
Indra membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan mahadi.
“Halo ndra,
Tahukah kamu ndra, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia
sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu
dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu
juga kali ini. Maafkan aku ndra. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.
Mahadi”
indrra terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari mahadi. Namun, mahadi
sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia
mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya
dimaafkan.
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati. - anonim -.
segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup
lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati
Indra berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter
menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Indra bimbang, haruskah ia
berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Indra menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu kan Mahadi, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Indra agak lega. Ia
melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Die. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Indra.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Mahadi agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. “Die, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh
terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Indra harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta
sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong ndra. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”
Dengan ketus Indra menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Mahadi menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
saat kemudian Mahadi mengetuk kaca jendela. Indra memandangi wajah Mahadi dengan
penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup
untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata mahadi kembali ke posnya.
indra mengambil surat tilang yang diselipkan Mahadi di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa
ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru
Indra membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan mahadi.
“Halo ndra,
Tahukah kamu ndra, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia
sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu
dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu
juga kali ini. Maafkan aku ndra. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.
Mahadi”
indrra terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari mahadi. Namun, mahadi
sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia
mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya
dimaafkan.
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati. - anonim -.
D A F T A R I S I
My photos. Now you know me.
My lifestream. Stay updated with me.
B U K U T A M U
Blog Archive
-
▼
2009
(72)
-
▼
Oktober
(14)
- Cinta | Kekayaan | Kesuksesan
- Bertemu adalah Kesempatan, Mencintai adalah Pilihan
- Lucu....
- Kesepian...
- Cerita Unta
- Mempersiapkan Kematian Adalah Cara Menikmati Hidup
- Prioritas Dalam Kehidupan
- Bahagia, ada pada Jiwa yang Bisa Bersyukur...
- Harapan...
- Kesedihan dan Lampu Merah
- Hujan dan Sang Kakek
- Impian Sejati
- Hidup Adalah Anugrah
- Sukses Yang Terkucilkan...
-
▼
Oktober
(14)
Labels
- belajar (15)
- berfikir (1)
- bersyukur (5)
- cerita (10)
- cerita lucu (7)
- cinta (1)
- emosi (1)
- enterpreneur (3)
- gagal (4)
- hahaha (6)
- harapan (1)
- hargai (4)
- heboh (1)
- hidup (9)
- i (1)
- inspirasi (20)
- jalan (1)
- jangan menyerah (6)
- kekuaan (1)
- kekuatan (5)
- ketawa (6)
- liburan gila (5)
- lucu (6)
- menghibur (8)
- mimpi (1)
- mobil (1)
- motivasi (5)
- pelajaran (3)
- polisi (1)
- rame (1)
- sahabat (1)
- sedih (1)
- semangat (7)
- senang (4)
- senyum (5)
- stress (9)
- sukses (2)
- teman (1)
- tidak putus asa (5)
- usaha (4)
My favblog. Feeds from them.
My videos. Featured videos.
B L O G R O L L
Label
- belajar (15)
- berfikir (1)
- bersyukur (5)
- cerita (10)
- cerita lucu (7)
- cinta (1)
- emosi (1)
- enterpreneur (3)
- gagal (4)
- hahaha (6)
- harapan (1)
- hargai (4)
- heboh (1)
- hidup (9)
- i (1)
- inspirasi (20)
- jalan (1)
- jangan menyerah (6)
- kekuaan (1)
- kekuatan (5)
- ketawa (6)
- liburan gila (5)
- lucu (6)
- menghibur (8)
- mimpi (1)
- mobil (1)
- motivasi (5)
- pelajaran (3)
- polisi (1)
- rame (1)
- sahabat (1)
- sedih (1)
- semangat (7)
- senang (4)
- senyum (5)
- stress (9)
- sukses (2)
- teman (1)
- tidak putus asa (5)
- usaha (4)









Leave A Reply